PERAHU YANG BERNAMA MAWAR ITU

Membaca Puisi-puisi Shohifur Ridho Ilahi dalam Manuskrip “Perahu Mawar” ~ Moh. Fathoni Mawar merupakan simbol penting dalam tradisi sastra Inggris terutama dalam sastra romantis. Simbol mawar pada mulanya merupakan ajaran Kristiani yang kemudian berkonotasi sekuler. Pada masa Elizabeth, para penyair tak terhitung jumlahnya yang menggunakan simbol mawar dari berbgagai sudut pandang dalam puisi-puisinya. Robert Burn,…

KOTA, BAHASA, DAN PERISTIWA PUISI

Membaca Puisi-Puisi dalam “Rembulan di Taman Kabaret” karya Ahmad Kekal Hamdani ~ Moh. Fathoni /1/ Keindahan karya sastra (puisi) menurut pandangan klasik adalah pembayangan kekayaan ciptaan Tuhan yang Maha Pencipta. Salah satu aspek keindahan itu termanifestasi dalam kesempurnaan sebagaimana taman yang indah-indah: surga. Pandangan konsep estetik demikian disarankan oleh Braginsky, setelah ia mengkaji kecenderungan karya-karya…

KEGAIBAN ATAWA PENOLAKAN

Membaca 5 Puisi Agus Manaji ~ Moh. Fathoni Ada 5 puisi yang disuguhkan kali ini: Diwan Nafas (2011), Diwan Batu-batu (2010), September di Rahimmu yang Rekah (2009), Kasidah Akar (2004), dan Improvisasi untuk Sisa Hujan (2003). Dari judul puisi-puisi tersebut 2 puisi menyebut kata “diwan” dan 1 puisi menyebut “kasidah”. “Kasidah merupakan sebuah bentuk puisi…

PATAHAN ETNISITAS DALAM BINGKAI IMAJI YANG TIPIS

[Membaca “Kumis Penyaring Kopi” Draft Kumpulan Cerpen Pinto Anugrah] ~ Moh. Fathoni Usai membaca cerpen-cerpen Pinto dalam kumpulan ini saya seperti kembali mempertanyakan: benarkah yang lampau telah menjadi jejak-benda, yang lenyap, dan menghilang? Lalu, kita kini duduk membaca sambil merenungi kenangan-nostalgia itu. Benarkah semua itu menjadi masa lalu? Usaha Pinto menjejaki masa lalu dalam cerpen-cerpen…

KESAKSIAN DAN PERNYATAAN DALAM PERISTIWA

[Membaca Puisi-puisi Ragil Supriyanto Samid] ~ Moh. Fathoni [i] Terus terang saya belum mengenal betul empu kumpulan puisi ini, Ragil Supriyanto Samid. Hanya dari buku kumpulan ini dan beberapa sumber lainnya, saya mendengar dan membaca karya-karyanya. Maka dalam tulisan ini, saya hanya sedikit menyinggung tentang kepengarangannya. Dari beberapa puisi dalam kumpulan ini, saya tahu ia…

PANTAI, RUANG RESISTENSI, DAN NARASI POSTKOLONIAL

[Membaca Cerpen “Lelaki Penjaga Laut” Karya Badrul Munir Chair] PANTAI, RUANG RESISTENSI, DAN NARASI POSTKOLONIAL Oleh Moh. Fathoni I Tulisan ini merupakan interpretasi dan analisa karya dan kaitannya dengan wacana postkolonial. Saya berangkat dari konsep ruang yang ditransformasi ke dalam suatu cerita. Pandangan mengenai ruang ini berdasarkan Luxemburg dkk. (1984: 142-148) bahwa suatu karya sastra…

Diskursus Luka, Identifikasi Subjek, dan Hasrat Lacan dalam Puisi “Luka” Karya Dwi Pranoto

~ moh. fathoni Lacan dalam konsepsi psikoanalisanya menggunakan dua strategi: fenomenologi dan struktural. Dengan fenomenologi, ia memilih subjek yang mempunyai hasrat dan menempatkannya ketidaksadaran agar menjadikannya sebagai “subjek yang bebas”. Kedua, struktural digunakan sebagai alat untuk membahas pengukuhan diri subjek, yakni sebagai dalam identifikasi diri [subjek]. Pada yang terakhir ini, Lacan mengembangkannya pada struktur bahasa.…

Relasi Kuasa dalam Cerpen “Ia Baru Saja Membunuh Suaminya” Karya Alex R. Nainggolan

~Moh. Fathoni

Postkolonial selain dijadikan sebagai wacana, dalam ilmu sastra ia merupakan piranti baca dan identifikasi relasi-relasi kuasa dalam suatu teks. Dalam tulisan ini digunakan setidaknya pandangan Said untuk melihat posisi dan relasi kuasa dalam cerpen “Ia Baru Saja Membunuh Suaminya” karya Alex R. Nainggolan.

Cerpen ini mengisahkan adanya kekuasaan dalam hubungan suami-istri yang telah lama menikah. Suami dalam teks (sastra) ini dideskripsikan lebih dominan secara eksplisit, yakni melalui represifitas tubuh dalam institusi keluarga; kemudian pula didukung oleh ideologi yang muncul atau dimunculkan, dipertahankan dalam tradisi patriarki. Relasi-relasi kuasa di sini direpresentasikan subjek

Memeras Air Mata dalam Lima Sajak Viddy AD Daery

Membaca 5 Sajak Air Mata Viddy AD Daery

Membaca sajak-sajak Viddy seperti mengingatkan luka yang nganga. Perih teramat nyata. Sehingga tak ada alasan lagi untuk berdusta, menyembunyi air mata yang api. Seolah Viddy tak lagi gelisah tetapi gemuruh yang cadas. Wajah yang terjal di pelupuk mimpi buruknya.

Ada semacam tuntutan yang berisi dua hal: ancaman kepada ‘kalian’ dan keluhan yang samar-samar kepada tuhan, agar dengan airmata tuhan berlaku adil. “Kau acungkan sajak-sajak ke langit-langit. Kau hujamkan pukulan telak pada ronde pertama. Kau sumbat mulut anjing piaraan yang dibuaskan hasrat tuannya.” Di kediaman ‘airmata’ tak ditemukan rasa pedih perih, tapi ada bekas yang terasa; pesta pora kata-kata yang berwajah rintihan amarah, luka yang memarah. Semacam antiklimaks yang beraroma dramatik.

Melempar Koin, Bermain Liontin

Upaya Membaca Cerpen ‘Koin’ Karya Danik Susiyati

Dari dimensi pembaca—berpijak dari konsepsi estetika resepsi, karya sastra barangkali satu dari jibunan bentuk komunikasi. Secara relasional dapat berupa garis-garis liner, saling berhadapan arah, dalam satu ruang dan waktu, atau di dalam jamaknya sehingga cenderung berelasi imajiner. Mungkin itu tak sepenuhnya betul, bahwa karya tak hidup bila tak dibaca dan dimakna oleh diri pembaca. Bukankah tetap ada lampu dan cahaya ketika mata dipejam?

Mukarovsky pernah memberi nama artefak pada karya yang semata-mata bermukim diam di atas kertas tanpa makna-dimaknai. Berbeda dengan karya sebagai objek estetik, yang padanya melewati pembacaan. Takkah ia pun sebelumnya telah melintasi objek-objek dan endapan? Tanpa lalu bersitegang, pembaca punya dimensi sendiri yang bisa jadi berbeda dengan yang lain? Horisan harapan pembaca, kata Gadamer. Suatu dimensi yang hadir dan tersimpan di mana saja, termasuk dalam kata-kata, karya sastra dalam tatapan kontemplasi dan ekstansi pembaca. Begitulah lalu muncul pendapat, berdebat, dan kerabatnya. Sayangnya bukan saatnya berlarut-larut berbincang soal ini, di sini.

Tulisan ini layaknya perbincangan yang direkam dalam suatu pertemuan mata dan kata, sisa sentuhan jemari, jejak kisah yang dicerap lalu dipertemukan. Ada karya antara kau, aku, dan lainnya. Setelah karya dituliskan, kini ada kemungkinan karya diobjek-estetikkan. Tanpa alasan pasti cerpen “Koin” karya Danik Susiyati (cerpen dapat diunduh di http://www.4shared.com/get/J19na-5v/KOIN_Cerpen_Danik_Susiyati.html) saya pilih untuk diperbincangkan.