PANTAI, RUANG RESISTENSI, DAN NARASI POSTKOLONIAL

[Membaca Cerpen "Lelaki Penjaga Laut" Karya Badrul Munir Chair]

PANTAI, RUANG RESISTENSI, DAN NARASI POSTKOLONIAL

Oleh Moh. Fathoni

I

Tulisan ini merupakan interpretasi dan analisa karya dan kaitannya dengan wacana postkolonial. Saya berangkat dari konsep ruang yang ditransformasi ke dalam suatu cerita. Pandangan mengenai ruang ini berdasarkan Luxemburg dkk. (1984: 142-148) bahwa suatu karya sastra merupakan ruang penyajian, dunia yang menampung para tokoh, peran, dan perilakunya pada deretan peristiwa. Dalam ruang penyajian tersebut memungkinkan adanya fungsi dan visi, yang dapat berupa pandangan, atau bahkan pertentangan tentang pandangannya sendiri. Dengan demikian ruang menjadi semacam medium atau ‘kutipan’ yang digunakan pengarang untuk menegaskan, memfokuskan visinya terhadap peristiwa yang dianggapnya perlu diceritakan. Dan bila dikaitkan antara peristiwa dengan cara fokalisasi, maka visi melalui cara ini tampak berperan dan berfungsi untuk menerangkan kesan dalam cerita.

menikam pasir

Maka, dalam tulisan ini perlu ditambahkan identifikasi narasi. Selanjutnya dilakukan perhatian terhadap pengaruh fokalisator yang dapat menimbulkan rasa simpati. Misalnya dalam peristiwa yang menggunakan pertentangan atau ketegangan. Tetapi rasa simpati muncul tergantung pada informasi dan pengungkapan yang diberikan oleh fokalisator. Ketergantungan ini berarti adanya pembatasan pemberian informasi, yang memungkinkan visi-visi lain kurang dibela atau diberikan kesempatan baik dalam kutipan dialog, deskripsi pencitraan, maupun perenungan fokalisator atau pelaku lainnya.

Cerpen Lelaki Penjaga Laut karya Badrul Munir Chair ini dapat disebut sebagai teks naratif sebab di dalamnya tidak bersifat dialog, dan bercerita tentang peristiwa Continue reading

Yang Seolah-olah Lain: Oposisi dalam Sajak “Surat Laut 4” Karya Ahmad Kekal Hamdani

~moh fathoni

warnaindonesia.comSurat Laut 4

Aku yang malam dan aku yang siang bertemu di suatu senja kuning. aku yang malam berkata lirih seperti berbisik sedih;

“Aku tak hendak membunuhmu dengan menarik bentang malam, aku sangat mencintaimu,” ucap aku yang malam pada aku yang siang sembari menatap cakrawala kuning kunyit di mata mega

“Aku mengerti, biar kau genapi balutan waktu yang setia menetes kala senja remang seperti ini, aku mengerti, sebab aku juga teramat mencintaimu,” jawab aku yang siang dengan merapatkan cadik ke tepi

Continue reading

Diskursus Luka, Identifikasi Subjek, dan Hasrat Lacan dalam Puisi “Luka” Karya Dwi Pranoto

~ moh. fathoni

Lacan dalam konsepsi psikoanalisanya menggunakan dua strategi: fenomenologi dan struktural. Dengan fenomenologi, ia memilih subjek yang mempunyai hasrat dan menempatkannya ketidaksadaran agar menjadikannya sebagai “subjek yang bebas”. Kedua, struktural digunakan sebagai alat untuk membahas pengukuhan diri subjek, yakni sebagai dalam identifikasi diri [subjek]. Pada yang terakhir ini, Lacan mengembangkannya pada struktur bahasa. Lacan dalam hal ini mengikuti Freud, dengan mengembangkan konsep transalasi bahasa, bahwa ketidaksadaran merupakan hasrat yang bergerak dan mendorong kepada kondisi yang kacau [chaos] yang secara terus-menerus. Meskipun pada akhirnya tujuan subjek tersebut tidak benar-benar dicapai, hanya proses identifikasi yang ideal, proses dan proses yang tidak pernah selesai. Karena menurut Lacan, dalam diri terdiri dari tiga hal yaitu kebutuhan [need], permintaan [demand], dan hasrat [desire]. Ketiganya  berhubungan dengan tiga fase berikutnya: yang nyata [real], imajiner dan simbolik. Continue reading

Relasi Kuasa dalam Cerpen “Ia Baru Saja Membunuh Suaminya” Karya Alex R. Nainggolan

~Moh. Fathoni

Postkolonial selain dijadikan sebagai wacana, dalam ilmu sastra ia merupakan piranti baca dan identifikasi relasi-relasi kuasa dalam suatu teks. Dalam tulisan ini digunakan setidaknya pandangan Said untuk melihat posisi dan relasi kuasa dalam cerpen  “Ia Baru Saja Membunuh Suaminya” karya Alex R. Nainggolan.

Cerpen ini mengisahkan adanya kekuasaan dalam hubungan suami-istri yang telah lama menikah. Suami dalam teks (sastra) ini dideskripsikan lebih dominan secara eksplisit, yakni melalui represifitas tubuh dalam institusi keluarga; kemudian pula didukung oleh ideologi yang muncul atau dimunculkan, dipertahankan dalam tradisi patriarki. Relasi-relasi kuasa di sini Continue reading

Memeras Air Mata dalam Lima Sajak Viddy AD Daery

womancryingMembaca 5 Sajak Air Mata Viddy AD Daery

Membaca sajak-sajak Viddy seperti mengingatkan luka yang nganga. Perih teramat nyata. Sehingga tak ada alasan lagi untuk berdusta, menyembunyi air mata yang api. Seolah Viddy tak lagi gelisah tetapi gemuruh yang cadas. Wajah yang terjal di pelupuk mimpi buruknya.

Ada semacam tuntutan yang berisi dua hal: ancaman kepada ‘kalian’ dan keluhan yang samar-samar kepada tuhan, agar dengan airmata tuhan berlaku adil. “Kau acungkan sajak-sajak ke langit-langit. Kau hujamkan pukulan telak pada ronde pertama. Kau sumbat mulut anjing piaraan yang dibuaskan hasrat tuannya.” Di kediaman ‘airmata’ tak ditemukan rasa pedih perih, tapi ada bekas yang terasa; pesta pora kata-kata yang berwajah rintihan amarah, luka yang memarah. Semacam antiklimaks yang beraroma dramatik.

Continue reading

Melempar Koin, Bermain Liontin

LUKISAN POTRET DIRI SANG ISTRI IW LOTRA SW (1985)Upaya Membaca Cerpen ‘Koin’ Karya Danik Susiyati 

Dari dimensi pembaca—berpijak dari konsepsi estetika resepsi, karya sastra barangkali satu dari jibunan bentuk komunikasi. Secara relasional dapat berupa garis-garis liner, saling berhadapan arah, dalam satu ruang dan waktu, atau di dalam jamaknya sehingga cenderung berelasi imajiner. Mungkin itu tak sepenuhnya betul, bahwa karya tak hidup bila tak dibaca dan dimakna oleh diri pembaca. Bukankah tetap ada lampu dan cahaya ketika mata dipejam?

Mukarovsky pernah memberi nama artefak pada karya yang semata-mata bermukim diam di atas kertas tanpa makna-dimaknai. Berbeda dengan karya sebagai objek estetik, yang padanya melewati pembacaan. Takkah ia pun sebelumnya telah melintasi objek-objek dan endapan? Tanpa lalu bersitegang, pembaca punya dimensi sendiri yang bisa jadi berbeda dengan yang lain? Horisan harapan pembaca, kata Gadamer. Suatu dimensi yang hadir dan Continue reading

Kritik Sastra: Antara Estetika dan Ide

 photos2.fotosearch.com

photos2.fotosearch.com

Satu dekade terakhir tidak perlu disangsikan lagi produktifitas (kreatifitas tepatnya) karya sastra. Ratusan bahkan ribuan karya sastra bertebaran di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Perkembangan pesat ini dinilai oleh banyak kalangan pengaruh dari iklim politik yang kondisif. Kebebasan dan publikasi berjalan beriring, tetapi antara kreasi dan kritik tidak seimbang. Publikasi karya tidak diimbangi dengan publikasi kritik.

Hanya sebagian kecil kritik didengungkan dengan bentuk yang lain; apresiasi atau ulasan misalnya lirih suaranya di media mingguan. Beruntung beberapa milis berupaya menjaga tradisi ini meski terengah-engah. Bagaimana ada kesimpulan itu bila tidak ada penilaian? Bagaimana pula menilai kualitas kritik bila minimnya karya kritikus sastra? Apakah minimnya kritik menandai krisis atau dekadensi sastra kita?

Continue reading